Loading...

Detail Bisnis

Wastra Aksara Batik Cap Lampung

Nama Bisnis : Wastra Aksara Batik Cap Lampung

Kategori Usaha : Industri Kreatif, Seni, dan Budaya

Tahapan Usaha : Tahapan Awal

Merek/ Nama Produk : Wastra Aksara

Nama Komunitas : UKM Inkubator Bisnis Juara

NIB : 0706250012336

Tahun NIB : 2025


Nama Institusi : Universitas Teknokrat Indonesia

Platform Penjualan : Shopee

Akun Media Sosial : @wastra.aksara

Situs Bisnis :

Lokasi Bisnis : Jl. P. Sebesi Ruko Perum. BSD No. 14 Kec. Sukarame, Kel. Sukarame Baru, Bandar Lampung

Link GMaps : https://maps.app.goo.gl/NRU5866c9diKTkmh6


Latar Belakang : Ditetapkannya batik Indonesia sebagai warisan budaya tak benda (intangible heritage of humanity) oleh UNESCO dan peringatan hari batik setiap tanggal 2 Oktober telah mendongkrak minat masyarakat Indonesia untuk menggunakan produk batik (Republika, 2023). Sebagian besar masyarakat Indonesia secara umum setidaknya memiliki batik untuk berbagai acara, baik formal maupun informal. Dari kalangan karyawan, pegawai negeri, mahasiswa, siswa, dan masyarakat umum, batik telah menjadi bagian dari pakaian yang penting dalam keseharian mereka. Bahkan saat para pejabat pemerintahan cenderung menggunakan batik ini dalam menghadiri acara kenegaraan. Batik tidak hanya menjadi komoditas budaya, tetapi juga komoditas ekonomi (Ilham, 2021). Sebagai komoditas budaya, batik merepresentasikan keunikan geografis dan budaya masyarakat. Sebagai komoditas ekonomi, batik diperdagangkan baik oleh perajin lokal maupun diolah kembali menjadi berbagai fashion dan bentuk yang ditargetkan secara ekonomi untuk berbagai kalangan. Kemeperin (2024) mencatat ekspor batik di triwulan II tahun mencapai 8,33 juta USD atau sekitar 135 miliar rupiah. Meskipun bukan yang tertinggi, namun angka ini menunjukkan bahwa pasar batik saat ini masih sangat menjanjikan baik secara domestik maupun internasional. Di tengah-tengah pasar batik yang terus menggeliat ini, masyarakat dihadapkan pada maraknya produk batik printing baik dari dalam negeri maupun impor dari Cina. Hal ini berdampak merosotnya penjualan pada industri batik di Indonesia (Tempo, 2024). Di sisi lain, banyak masyarakat yang masih awam membedakan batik asli (teknik merintang warna menggunakan malam) dan batik printing (sablon) (Jawa Pos, 2020). Akibatnya, masyarakat cenderung memilih yang mereka anggap batik dengan harga yang lebih murah. Hal ini berarti, edukasi kepada masyarakat tentang penggunaan batik asli dan alternatif produk batik asli perlu ditingkatkan. Saat ini, industri batik telah berkembang pesat, tidak hanya di daerah pembatikan lama seperti Yogyakarta, Solo, Lasem, Trusmi, Garut dan Tasik, tapi juga daerah-daerah lain. Lampung adalah satu satu provinsi yang merupakan daerah pembatikan baru. Mulai muncul pada awal tahun 2001 (Anwar, Emrizal, Elyanta, 2024), industri batik di Lampung didominasi oleh UMKM batik tulis dan UMKM batik printing. Beberapa brand yang sudah berdiri sejak lama, berfokus pada segmen konsumen batik tulis, dan memiliki workshop sendiri adalah Deandra Batik, Batik Siger, Sikkop Arum Batik, Srikandi Batik, sementara itu batik printing bermotif khas Lampung juga banyak dijual di toko-toko souvenir. Di Lampung sendiri, tidak semua UMKM batik memiliki workshop batik. Karena kepraktisan dan faktor belum tersedianya pengolahan limbah cair, banyak juga yang melakukan produksi di daerah pembatikan utama. Batik tulis Lampung telah mengambil segmen menengah ke atas dengan harga kain batik di kisaran di atas Rp 300.000,- sedangkan batik printing berada di kisaran Rp 150.000,- per kainnya. Dengan opsi ini, masyarakat menengah cenderung memilih batik printing dengan karena harga dan anggapan bahwa motifnya masih tergolong bagus dengan motif lampung. Disamping itu, masyarakat juga cenderung membeli batik, baik batik yang dijual kembali di toko batik fisik maupun toko batik daring di media sosial atau marketplace. Untuk, menjembatani kelas menengah dalam memilih batik, salah satu caranya adalah dengan menghadirkan produk batik asli yang menggunakan canting cap tembaga. Dengan harga yang bisa setara dengan batik printing, masyarakat masih dapat membeli batik asli yang mana batik cap dapat dikerjakan lebih cepat, dengan motif yang repetitif atau berulang. Saat ini, UMKM batik cap di Lampung masih tergolong sedikit sehingga peluang pasarnya masih sangat tinggi. Wastra Aksara Batik merupakan inisiatif kewirausahaan dari mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia yang menangkap peluang industri batik cap dengan motif kedaerahan. Nama Wastra Aksara diambil dari dua kata yakni “Wastra” yang dalam bahasa Sansekerta berarti kain “Aksara” yang berarti huruf. Wastra Aksara Batik berarti kewirausahaan batik cap yang memiliki ciri khas motif unsur aksara nusantara dalam setiap kainnya. Pemilihan aksara nusantara, yang dalam produk rintisan ini mengambil aksara Lampung (kaganga) didasarkan pada dua hal. Pertama yakni keunikan atau estetika motif aksara menjadi motif batik. Kedua yakni nilai budaya di dalamnya, dimana aksara Lampung yang merupakan Budaya Nusantara (Detik Sumbagsel, 2023) terus direvitalisasi melalui plang nama jalan, dan pengajaran muatan lokal di tingkat SD-SMA. Penggunaan aksara Lampung dalam motif batik ini merupakan simbol bahasa Lampung yang saat ini rentan (Rachmatia, 2024). Prof. Hasyim Gunawan pada tahun 1984 memprediksi bahwa bahasa Lampung dapat punah dalam tiga generasi, atau sekitar 75 tahun sejak penelitian tersebut dilakukan (Makdori, 2024) atau sekitar tahun 2059. Beberapa penyebabnya antara lain putusnya generasi penutur bahasa Lampung ke generasi saat ini, dan mulai hilangnya percakapan bahasa Lampung di tempat publik karena dominasi bahasa Indonesia (Kusumo, 2024). Desain motif pada Wastra Aksara Batik merupakanan upaya penggabungan kekayaan nilai budaya dengan pendekatan desain yang modern dan relevan dengan selera masyarakat urban masa kini. Sebagai pembeda (Unique Selling Point (USP)) lainnya, motif yang ada merupakan motif kreasi sendiri yang terinspirasi dari aksara Lampung dan budaya Indonesia. Motif yang dipilih adalah motif minimalis dan elegan, dengan warna primer dan warna bumi (earth tone) satu warna, mengikuti tren motif dan warna saat ini. Kemudian sebagai jawaban atas tantangan tersebut. Wastra Aksara batik mengusung konsep batik naratif, setiap helai kain tidak hanya menampilkan motif indah, tetapi juga menyampaikan cerita dan filosofi dari aksara Lampung yang dipilih. Dengan tagline “Indonesia timeless script batik” Wastra Aksara Batik lebih dari sekedar pakaian, tapi juga bentuk ekspresi budaya yang mengusung narasi, nilai edukatif, serta identitas lokal yang kuat. Wastra Aksara Batik didirikan oleh 3 orang mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia yang saat ini sedang menempuh semester 4, dan beralamat di Jalan Jl. P. Sebesi Ruko Perum. BSD No. 14 Kec. Sukarame, Kel. Sukarame Baru, Bandarlampung. Struktur organisasi yang ada saat ini yakni Insani Maria Ulfa (Program Studi Sastra Inggris) sebagai koordinator produksi, Yoan Meyral Sinaga (Program Studi Sastra Inggris) sebagai koordinator desain dan promosi, dan Tiara Intri Vena Simbolon (Program Studi Manajemen) sebagai koordinator keuangan. Komposisi tim untuk sekarang ini dianggap cukup untuk mengoperasikan usaha.

Deskripsi Usaha : Wastra Aksara Batik didirikan dengan lebih dari tujuan komersial. Pertama, yakni melestarikan dan mempromosikan budaya Indonesia, melalui batik asli dengan canting cap. Di tengah gempuran tekstil printing bermotif batik, baik dari pemain lokal maupun impor Cina, hadirnya usaha batik cap original ini memberi warna pada industri batik lokal dan nasional nantinya. Produk Wastra Aksara Batik yang berbasis batik naratif ini tidak hanya menjadi medium efektif untuk mengenalkan kembali warisan budaya kepada generasi muda, sekaligus menjembatani tradisi dan gaya hidup modern. Tujuan mulia yang kedua adalah menjembatani masyarakat yang sudah teredukasi batik dan tekstil bermotif batik untuk mendapatkan batik asli dengan harga yang relatif terjangkau atau relatif sama dengan batik printing. Hadirnya Wastra Aksara Batik memudahkan segmen kelas menengah untuk turut serta menjadi bagian dari kampanye bangga berbatik dengan batik asli dan juga untuk mendukung kebutuhan pakaian mereka di berbagai acara. Tujuan mulia yang ketiga adalah mengangkat motif aksara nusantara terutama aksara Lampung. Melihat ancaman kepunahan bahasa Lampung dan menurunnya eksistensi aksara tradisional ini di ruang publik, Wastra Aksara hadir sebagai inovasi dalam industri kreatif yang menggabungkan nilai estetika dengan misi edukatif dan historis, dan membangun narasi bangga berbatik aksara Lampung bagi masyarakat Lampung dan segmen masyarakat pecinta batik lainnya.

Penutup : Berdasarkan proposal ini, dapat disimpulkan bahwa Wastra Aksara Batik adalah produk kain batik naratif yang unik dan memiliki potensi pasar yang besar. Selain motifnya yang indah kain batik kami juga membantu masyarakat untuk lebih mengenali budaya atau sastra yang ada di Lampung dan salah satu cara kami menggaungkan isu potensi kepunahan bahasa dan askara. Diharapkan dengan strategi pemasaran yang tepat, produk ini akan sukses di pasar batik yang sudah mulai meluas. Wastra Aksara Batik terus melakukan inovasi pada produk agar tetap menarik minat konsumen. Selain itu, juga perlu dilakukan strategi pemasaran yang tepat dan efektif, seperti memanfaatkan media sosial dan event-event tertentu untuk meningkatkan kesadaran, penjualan, dan juga. Diharapkan juga, Wastra Aksara Batik dapat menjadi alternatif kain batik asli di tengah maraknya tekstik bermotif batik tetapi juga melaksanakan prinsip responsible production melalui pemanfaatan limbah tekstil (kain sisa), dan sentralisasi produksi batik cap di daerah pembatikan utama, yang bisa dilakukan dalam kapasitas kami. Selain itu, produk ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat yang baik bagi konsumen. Dengan tagline “Indonesian timeless script batik”, Wastra Aksara Batik berupaya untuk menghasilkan karya yang modern, dinamin, tak lekang oleh waktu, dengan kekhasan script atau aksara pada motifnya sehingga memiliki positioning sendiri, juga nantinya tidak hanya bermain di pasar lokal, tetapi juga nasional dan regional.