Loading...

Detail Bisnis

VertiCrab Budidaya Pembesaran Kepiting Bakau Berkualitas Guna...

Nama Bisnis : VertiCrab Budidaya Pembesaran Kepiting Bakau Berkualitas Guna Meningkatkan Nilai Jual Kepiting Bakau Menggunakan Budidaya Kepiting Vertikal Dilengkapi Teknologi Pengendalian Air

Kategori Usaha : Budidaya

Tahapan Usaha : Tahapan Bertumbuh

Merek/ Nama Produk : VertiCrab

Nama Komunitas : -

NIB : 0506250040076

Tahun NIB : 2025


Nama Institusi : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Platform Penjualan : Shopee, Instagram, TikTok, Facebook

Akun Media Sosial : @verticrab.id

Situs Bisnis : -

Lokasi Bisnis : Perum Andalusia Blok C. No.9 Suci, Gresik

Link GMaps : https://maps.app.goo.gl/ctvxkhCyzv9ow3Mb6


Latar Belakang : 1.1 Latar Belakang Industri budidaya kepiting bakau di Indonesia memiliki potensi ekonomi yang sangat besar, didorong oleh permintaan pasar domestik dan internasional yang terus meningkat dimana pada tahun 2010 telah meraup devisa US $ 35.298.000 (Fardiyah et al., 2021). Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir ekspor meningkat rata-rata 14,06% (Fardiyah et al., 2021). Permintaan pasar global terhadap kepiting bakau sangat tinggi, terutama dari negara tujuan ekspor utama seperti Tiongkok, Singapura, dan Hong Kong, dll (Bhuiyan et al., 2021). Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), ekspor kepiting Indonesia mencapai lebih dari 10.000 ton per tahun, dengan nilai mencapai USD 85 juta pada tahun 2023. Salah satu kota dengan permintaan kepiting tinggi adalah DKI Jakarta. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan, total volume pengiriman kepiting hidup ke Provinsi DKI Jakarta dalam periode tersebut mencapai 3.137.305 ekor atau 73,70% dari total lalu lintas domestik Kepiting (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2020). Namun, sekitar ± 61,6% pasokan masih berasal dari penangkapan alam, yang sangat tergantung musim, berisiko terhadap overfishing, dan tidak mampu menjamin kualitas maupun kuantitas secara konsisten (Saidah et al., 2016). Sementara itu, sistem budidaya konvensional yang diharapkan menjadi solusi jangka panjang justru menghadapi hambatan besar dan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi sangat diminati oleh segmen pasar premium, baik di dalam negeri maupun untuk ekspor. dan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi sangat diminati oleh segmen pasar premium, baik di dalam negeri maupun untuk ekspor. Dalam mengatasi berbagai permasalahan pada budidaya kepiting bakau konvensional dan menjawab permintaan pasar yang terus meningkat, diperkenalkan produk kepiting bakau premium hasil budidaya menggunakan sistem Vertical Crab House yang dilengkapi teknologi kontrol dan monitoring berbasis Internet of Things (IoT). Sistem Vertical Crab House memungkinkan budidaya secara bertingkat sehingga penggunaan lahan menjadi lebih efisien dan berkelanjutan. Teknologi IoT secara real-time memantau parameter kualitas air penting seperti pH, suhu, salinitas, dan kadar amonia sebagai parameter yang selama ini sulit dikendalikan pada sistem budidaya konvensional. Penelitian menunjukkan bahwa kadar pH optimal untuk pertumbuhan kepiting adalah 7.5–9.0, suhu antara 25–35°C, salinitas 10–30 ppt, dan kadar amonia seharusnya di bawah 0,02 mg/L (Rumondang et al., 2023). Dengan kontrol otomatis, sistem ini menjaga kondisi lingkungan dalam rentang optimal, sehingga meminimalkan stres dan kematian pada kepiting. Sekitar 70–75% hasil panen memenuhi kriteria pasar premium, dengan ukuran seragam, cangkang keras dan mengilap, serta rasio hidup lebih dari 95% selama pengiriman. Angka ini jauh melebihi capaian pada budidaya konvensional, dimana hanya 30–40% kepiting yang dapat memenuhi standar tersebut. Dengan demikian, penerapan sistem budidaya kepiting bakau berbasis teknologi tidak hanya berkontribusi pada peningkatan nilai ekonomi produk dan daya saing di pasar domestik maupun internasional, tetapi juga mendukung beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Pertama, dari aspek penyediaan pangan berkualitas (SDG 2), produk kepiting yang dihasilkan memiliki kualitas yang lebih baik, ukuran yang seragam, dan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi, sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi masyarakat secara konsisten dan berkelanjutan. Kedua, dari sisi produksi yang bertanggung jawab (SDG 12), penggunaan teknologi untuk mengontrol kondisi lingkungan budidaya secara presisi memungkinkan efisiensi sumber daya, mengurangi limbah dan kematian, serta meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar. Ketiga, pelestarian ekosistem laut dan mangrove (SDG 14) sangat terdukung karena budidaya yang terkontrol dan terstandarisasi ini mengurangi ketergantungan pada penangkapan liar yang menyebabkan overfishing dan kerusakan habitat alami. Terakhir, inovasi teknologi dalam sektor akuakultur (SDG 9) mendorong kemajuan industri perikanan melalui penerapan IoT dan sistem otomasi yang modern, meningkatkan produktivitas serta membuka peluang riset dan pengembangan lebih lanjut. Dengan cara ini, budidaya kepiting bakau berbasis teknologi tidak hanya membawa keuntungan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan dan sosial secara holistik. 1.2 Profil Usaha VertiCrab adalah usaha yang bergerak pada bidang budidaya yaitu kepiting bakau premium yang mengadopsi teknologi Vertical Crab House berbasis IoT untuk menghasilkan kepiting dengan kualitas unggul. Usaha ini fokus pada produksi kepiting bakau yang memiliki ukuran dan bobot seragam serta tingkat kelangsungan hidup tinggi, guna memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor yang mengutamakan standar premium. Proses budidaya berlangsung selama 2-3 bulan untuk dapat dipanen. Berdasarkan percobaan perbandingan hasil budidaya yang telah dilakukan pada Bulan Juli sampai dengan Septermber 2024 menggunakan metode ini dan tidak menunjukkan bobot rata-rata kepiting mencapai lebih dari 450 gram per ekor, meningkat sekitar 25–30% dibandingkan budidaya konvensional yang biasanya menghasilkan kepiting seberat 350–370 gram. Semakin lama proses budidaya maka semakin besar pula berat kepiting pada saat dipanen. Tingkat kelangsungan hidup (survival rate) juga meningkat signifikan, mencapai 85–90%, jauh lebih tinggi dibanding mortalitas 20–40% yang umum terjadi pada budidaya tradisional. Selain itu, kualitas daging kepiting lebih padat, bersih, dan seragam, sehingga memenuhi standar pasar ekspor dan restoran premium. Saat ini, VertiCrab telah memasuki tahap usaha berkembang. Perjalanan usaha dimulai sejak 2022 melalui riset dan pengembangan teknologi budidaya vertikal, dilanjutkan dengan pembangunan fasilitas, penerapan sistem kontrol lingkungan berbasis digital, hingga produksi dan pemasaran kepiting bakau premium. Sebagai inovasi di bidang akuakultur, VertiCrab mengintegrasikan teknologi modern secara bertahap guna menjaga kualitas dan efisiensi operasional. Pengembangan awal dilakukan dengan 12 box, kemudian meningkat menjadi 30 box pada 2023, dan mencapai 80 box pada 2025. Gambar 1.2 Tempat Budidaya Kepiting Bakau Premium Vericrab Gambar 1.2 memperlihatkan infrastruktur budidaya kepiting bakau yang dilengkapi aplikasi untuk memantau dan mengontrol parameter air secara otomatis. Berbeda dari metode konvensional, sistem ini menerapkan pendekatan vertikal dan sensorik yang mendukung otomatisasi guna meningkatkan produktivitas, efisiensi pakan, dan tingkat kelangsungan hidup. VertiCrab, yang tetap berada dalam kategori usaha budidaya, menawarkan solusi berkelanjutan untuk memenuhi permintaan pasar premium. Saat ini, VertiCrab telah memasuki fase produksi komersial dan mulai dipasarkan secara lokal dengan tanggapan positif. Lokasinya berada di Gresik, Jawa Timur, yang strategis karena dekat dengan sumber air payau dan pusat distribusi pasar utama.Sejarah VertiCrab berawal dari upaya untuk mengatasi permasalahan dalam budidaya kepiting konvensional yang masih belum optimal. Melalui riset teknologi dan kolaborasi dengan akademisi, VertiCrab didirikan sebagai inovasi yang mendukung peningkatan produktivitas dan kualitas kepiting bakau secara berkelanjutan. Gambar 1.3 Logo Usaha Nama VertiCrab berasal dari “Vertical” dan “Crab”, mencerminkan konsep budidaya yang hemat ruang dan efisien. Gambar 1.3 menujukkan Logo VertiCrab. Logo VertiCrab melambangkan kepiting sebagai fokus bisnis, dengan warna biru mewakili teknologi dan perairan, serta oranye-kuning melambangkan pertumbuhan dan keberlanjutan. Mengusung tagline “IoT Based Innovation”, VertiCrab berkomitmen menghadirkan solusi modern dan berkelanjutan dalam industri budidaya kepiting. 1.2.1 Struktur Organisasi Gambar 1.4 Struktur Organisasi VertiCrab Struktur orgaisasi VertiCrab ditunjukkan pada Gambar 1.4 di atas. Detail backgorund dan pembagian jobdesc masing-masing anggota adalah sebagai berikut: 1) Chief Executive Officer (CEO) Salwa Dzanur Royana, mahasiswa Teknik Instrumentasi. Menentukan arah strategis, mengawasi operasional dan kinerja tim, menjalin kemitraan, serta bertanggung jawab atas target dan keberlanjutan bisnis. 2) Chief Operating Officer (COO) Muhammad Alif Al Ayyubi, mahasiswa Teknik Instrumentasi. Mengelola operasional harian budidaya kepiting, memastikan sistem IoT berjalan optimal, mengatur logistik, dan mengawasi efisiensi sumber daya. 3) Chief Marketing Officer (CMO) Saidatul Rohmah, mahasiswa Biologi. Menyusun strategi pemasaran, mengelola branding dan pasar, akun media sosial, kampanye digital, serta menganalisis tren pasar. 4) Chief Financial Officer (CFO) Nita Ardhiani Sa.adah, mahasiswa Statistika Bisnis. Mengelola keuangan harian, menyusun laporan, merancang anggaran dengan akurasi, dan evaluasi keuangan tiap 3 bulan. 5) Chief Creative Officer (CCO) Zara Aprilia Putri Wibowo, mahasiswa Desain Komunikasi Visual. Mengelola tampilan visual merek dan produk, menciptakan konten kreatif, menjaga konsistensi merek, dan berkolaborasi dengan CMO untuk kampanye visual.

Deskripsi Usaha : Tujuan mulia/noble purpose VertiCrab adalah menyediakan produk makanan laut berupa kepiting bakau berkualitas tinggi dan sehat untuk masyarakat Indonesia serta pasar global. Dengan mengintegrasikan sistem budidaya berbasis teknologi dan Internet of Things (IoT), VertiCrab dapat memantau serta mengontrol kondisi lingkungan budidaya secara real-time. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen, tetapi juga memastikan efisiensi penggunaan air dan pakan. Sejalan dengan prinsip perikanan budidaya berkelanjutan yang dicanangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), VertiCrab menerapkan praktik budidaya berkelanjutan. Sistem budidaya vertikal tertutup yang digunakan memungkinkan pengelolaan air yang lebih hemat, kontrol kualitas lingkungan yang tepat, dan pencegahan limbah langsung ke ekosistem sekitar yang dapat merusak lingkungan. Saat ini ±61,6% produksi kepiting bakau nasional masih bergantung pada tangkapan alam (Gateria et al., 2024), yang rentan terhadap degradasi ekosistem mangrove akibat alih fungsi lahan (Mukhlis et al., 2022). Di sisi lain, tingkat mortalitas larva dalam budidaya tradisional bisa mencapai 69,31% akibat kualitas lingkungan yang tidak terpantau secara akurat (Akbar et al., 2023), sehingga teknologi kontrol dan monitoring menjadi krusial. Selain itu, VertiCrab berkomitmen untuk memenuhi standar nasional dalam budidaya perikanan yang baik, seperti Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN). Standar ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pengelolaan lingkungan, desain dan tata letak optimal, sanitasi/kualitas air, pemilihan benih, pemberian pakan, hingga penanganan panen, guna memastikan keamanan dan kualitas produk perikanan. Budidaya vertikal yang dikembangkan VertiCrab merupakan solusi inovatif untuk mengatasi keterbatasan lahan dan berbagai tantangan lingkungan yang sering dijumpai dalam budidaya konvensional. Metode ini mendukung efisiensi penggunaan sumber daya, meminimalkan risiko kematian massal akibat fluktuasi kualitas air, serta memastikan ketersediaan produk sepanjang tahun dengan mutu yang konsisten. VertiCrab berupaya menjadi pelopor usaha perikanan berkelanjutan yang unggul melalui inovasi teknologi budidaya. VertiCrab juga bertujuan untuk memberikan nilai tambah secara sosial. Salah satu langkah nyatanya adalah dengan melibatkan masyarakat pesisir, khususnya nelayan tradisional, sebagai mitra dalam rantai pasok budidaya. Nelayan yang sebelumnya bergantung pada hasil tangkapan laut yang fluktuatif kini dapat menjual kepiting kecil hasil tangkapan mereka kepada VertiCrab untuk dibesarkan dalam sistem budidaya modern. Dengan begitu, potensi hasil laut tidak terbuang sia-sia dan nelayan tetap mendapatkan penghasilan dari hasil tangkapan yang sebelumnya dianggap kurang bernilai. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh tim VertiCrab, sebanyak 74,02% responden menyatakan tertarik pada implementasi sistem vertical crab house berbasis kontrol kualitas lingkungan, karena dinilai lebih menguntungkan dan berkelanjutan dibanding metode konvensional. Melalui skema kemitraan ini, VertiCrab tidak hanya menjaga keberlanjutan ekosistem laut, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi nelayan. Inisiatif ini memperkuat ekosistem usaha yang inklusif, terprediksi, dan berkelanjutan, sekaligus memperluas dampak positif teknologi dalam sektor perikanan. Secara lebih luas, visi dan aktivitas VertiCrab selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Pertama, dengan menyediakan sumber pangan laut yang bergizi dan berkualitas, VertiCrab mendukung SDG 2 tentang pengentasan kelaparan dan penyediaan pangan yang cukup. Kedua, VertiCrab berkontribusi pada SDG 8 dengan menciptakan lapangan kerja yang layak dan meningkatkan pendapatan petani serta nelayan dalam rantai produksi. Ketiga, penerapan teknologi digital dalam budidaya mendukung SDG 9 yang mendorong inovasi dan pembangunan infrastruktur industri yang berkelanjutan. Keempat, dengan proses produksi yang efisien dan ramah lingkungan, VertiCrab turut mewujudkan SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Terakhir, usaha ini juga menjaga kelestarian ekosistem laut dan mangrove, sehingga mendukung SDG 14 mengenai pelestarian kehidupan bawah laut. Dalam mencapai tujuan ini, VertiCrab berkomitmen untuk bekerja dengan etika dan integritas yang tinggi, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Dalam mencapai tujuan ini, VertiCrab berkomitmen untuk bekerja dengan etika dan integritas yang tinggi, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. 2.2 Konsumen Potensial Dalam pengembangan usaha VertiCrab, identifikasi konsumen potensial menjadi langkah krusial untuk menentukan arah strategi pemasaran yang tepat. Berdasarkan pengalaman awal yang telah melayani segmen konsumen individu di sekitar lokasi usaha maupun mitra dalam skema B2B (Business to Business), VertiCrab kini memfokuskan arah pemasarannya pada segmen B2B. Fokus ini dipilih karena segmen B2B, seperti restoran seafood dan distributor besar, menawarkan potensi kerja sama berkelanjutan melalui kontrak jangka panjang, permintaan dalam jumlah besar, serta standarisasi mutu yang selaras dengan keunggulan VertiCrab. 2.2.1 Analisis STP Analisis STP merupakan pendekatan strategis dalam pemasaran untuk mengidentifikasi konsumen potensial dari VertiCrab. Melalui pendekatan Melalui pendekatan STP (Segmentasi, Targeting, dan Positioning), Melalui pendekatan ini, VertiCrab dapat memahami karakteristik pasar dan bagaimana produk ini dapat ditempatkan secara strategis di pasar. Segmentting Variabel-variabel utama yang digunakan dalam segmentasi mencakup aspek geografis, demografis, psikografis, dan perilaku konsumen. Pengelompokan ini memudahkan identifikasi segmen pasar yang paling potensial untuk dijangkau. Detail dari variabel-variabel segmentasi tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.1. Gambar 2.1 Segmentasi Pasar VertiCrab Pada Gambar 2.1 menunjukkan bahwa segmentasi pasar VertiCrab didasarkan pada empat variabel utama, yaitu geografis, demografis, psikografis, dan perilaku. Secara geografis, target utama VertiCrab adalah untuk diekspansi ke seluruh kota di provinsi Jawa Timur. Dari segi demografis, VertiCrab menyasar pelaku usaha kuliner skala besar seperti restoran seafood premium serta distributor yang membutuhkan pasokan kepiting dalam jumlah besar secara konsisten. Secara psikografis, pasar potensial terdiri dari konsumen yang peduli terhadap kualitas produk, keamanan pangan, dan keberlanjutan lingkungan, serta menghargai produk hasil budidaya modern yang higienis dan terstandar. Sementara itu, dari sisi perilaku, VertiCrab menyasar konsumen dengan kebutuhan pasokan yang stabil dan berkelanjutan, serta memiliki preferensi untuk menjalin kontrak jangka panjang guna menjamin kontinuitas suplai produk berkualitas tinggi. Targeting VertiCrab menerapkan strategi concentrated targeting yang berfokus pada dua segmen utama: Restoran seafood kelas menengah atas dan premium, yang membutuhkan pasokan kepiting berkualitas secara konsisten. Distributor seafood yang melayani pasar ekspor atau retail besar dan mengutamakan kontinuitas pasokan serta kualitas produk. Kedua target pasar ini membutuhkan kepiting dalam jumlah besar dengan kualitas tinggi dan konsistensi pasokan, yang menjadi keunggulan utama dari sistem budidaya vertikal VertiCrab. Positioning VertiCrab diposisikan sebagai solusi budidaya kepiting premium berbasis teknologi yang menjawab kebutuhan pasar akan produk berkualitas tinggi dan berkelanjutan. Nilai utama yang ditawarkan meliputi Kepiting bakau berukuran besar, daging padat, dan bersih. Diproduksi melalui sistem vertikal berbasis IoT yang menjaga kualitas air dan meminimalkan stres serta kematian. Ramah lingkungan, tanpa bahan kimia berbahaya. Pasokan stabil dan terstandarisasi. 2.2.2 Analisis Market Size Untuk menentukan potensi pasar bagi VertiCrab, penting dilakukan analisis ukuran pasar yang mencakup keseluruhan pasar yang tersedia hingga pangsa pasar yang realistis dapat dicapai. Gambar 2.2 Analisis Market Size VertiCrab Gambar 2.2 menunjukkan hasil analisis market size VertiCrab dengan proyeksi potensi sekitar IDR 751,1 miliar untuk Total Addressable Market (TAM), IDR 300,6 miliar untuk Serviceable Available Market (SAM), dan IDR 15,03 miliar untuk Serviceable Obtainable Market (SOM). Angka-angka ini menggambarkan potensi pasar ekspor kepiting Indonesia pada 2025, segmen budidaya skala kecil dan menengah yang dapat dijangkau, serta target pasar yang realistis dalam tiga tahun pertama operasional. 2.2.3 Analisis Kompetitor Tabel perbandingan antara VertiCrab dengan kompetitor lain ditujukan gambar 2.3 berikut ini: Gambar 2.3 Analisis Kompetitor VertiCrab Berdasarkan Gambar 2.3, VertiCrab memiliki keunggulan signifikan dibandingkan dua jenis kompetitor lainnya. Sistem budidaya vertikal berbasis teknologi memberikan kontrol penuh terhadap lingkungan, sehingga menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih tinggi dan seragam, serta risiko kematian yang rendah. Keunggulan kompetitif VertiCrab tidak hanya terlihat dari kualitas produk dan efisiensi sistem, tetapi juga dari kesesuaian dengan prinsip pembangunan berkelanjutan dan kesiapan untuk memenuhi permintaan pasar ekspor. Ini menjadi pembeda utama yang memperkuat posisi VertiCrab dalam pasar budidaya kepiting premium. 2.2.4 Analisis SWOT Telah dilakukan analisis SWOT guna mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang mungkin dihadapi. Hasil analisis SWOT disajikan Gambar 2.4 berikut ini: Gambar 2.4 Analisis SWOT VertiCrab 2.3 Produk Inovatif 1. Analisi Permasalahan Konsumen produk kepiting, terutama yang bergerak di sektor kuliner premium dan ekspor, menghadapi berbagai tantangan serius dalam memperoleh kepiting dengan kualitas yang stabil dan konsisten. Dalam sistem budidaya konvensional, variasi ukuran dan bobot kepiting menjadi masalah utama. Satu siklus panen sering kali menghasilkan kepiting dengan rentang bobot sangat lebar, mulai dari 200 gram hingga 500 gram, yang menyebabkan kesulitan dalam proses pengemasan dan pemenuhan standar ekspor. Menurut data dari Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara tahun 2022, lebih dari 60% hasil panen kepiting bakau dari tambak tradisional memiliki ukuran dan berat yang tidak seragam, sehingga tidak memenuhi kriteria pasar ekspor yang menuntut ukuran minimal 450 gram dengan keseragaman tinggi. Selain ukuran, kualitas tekstur dan rasa daging kepiting juga menjadi perhatian utama. Kondisi lingkungan budidaya yang tidak stabil, seperti suhu air yang fluktuatif, kadar amonia yang tinggi, atau pH yang ekstrem dapat menyebabkan stres pada kepiting (Risma Al-fain & Saefullah Saefullah, 2025). Hal ini berdampak pada proses molting (pergantian cangkang) yang terganggu, sehingga banyak kepiting memiliki cangkang yang lunak dan daging yang tidak padat. Laporan FAO tahun 2021 menyebutkan bahwa kegagalan molting dan rendahnya kualitas daging merupakan penyebab utama tingginya angka penolakan produk kepiting di pasar internasional, khususnya dari negara-negara dengan standar mutu ketat seperti Jepang dan Uni Eropa (Rumondang et al., 2023). Tingkat kematian selama proses budidaya juga menjadi kendala signifikan. Dalam sistem konvensional, survival rate kepiting bakau hanya berkisar 50–65%, disebabkan oleh minimnya pemantauan kualitas air serta penggunaan sistem terbuka yang rentan terhadap perubahan lingkungan mendadak dan infeksi mikroba. Hal ini menyebabkan ketidakstabilan pasokan, meningkatkan biaya produksi, dan menyulitkan konsumen dalam memperoleh produk dengan mutu tinggi secara berkelanjutan (Ema fauziah et al., 2024). Selain itu, banyak konsumen kelas atas mengeluhkan adanya bau lumpur atau amis berlebihan pada kepiting hasil budidaya, yang menunjukkan bahwa lingkungan tumbuh tidak bersih dan tidak terkendali. Permasalahan-permasalahan ini menandakan adanya celah besar dalam penyediaan produk kepiting bakau berkualitas tinggi di pasar. Maka dari itu, diperlukan solusi inovatif yang mampu menjamin kualitas produk secara konsisten menjadi sangat dibutuhkan dalam menjawab kebutuhan pasar yang semakin menuntut. 2. Analisis Solusi Untuk menjawab permasalahan konsumen terkait kualitas hasil kepiting, VertiCrab menghadirkan solusi melalui budidaya kepiting bakau berbasis sistem vertikal tertutup dengan teknologi Internet of Things (IoT). Solusi ini terbukti secara langsung mampu mengatasi tantangan utama konsumen, seperti ukuran yang tidak seragam, kualitas daging yang tidak optimal, dan tingginya angka kematian dalam budidaya. Teknologi ini memungkinkan pemantauan dan pengendalian parameter lingkungan secara real-time, seperti suhu, pH, salinitas, dan kadar amonia air yang merupakan faktor penting dalam menjaga pertumbuhan dan kesehatan kepiting. Studi dalam Aquaculture Reports menyatakan bahwa kadar amonia di atas 1 mg/L dapat menurunkan survival rate kepiting hingga 76%, sementara pada sistem budidaya VertiCrab, kadar amonia dijaga stabil di bawah 0,5 mg/L menggunakan sistem resirkulasi dan biofilter alami (Budi Priyono & Triatmanto, 2023). Dengan parameter yang terjaga optimal, tingkat stres pada kepiting menurun drastis, menghasilkan cangkang yang keras dan tekstur daging yang lebih padat. Dalam satu siklus panen selama 2–3 bulan, VertiCrab berhasil memanen kepiting dengan rata-rata bobot di atas 450 gram per ekor, dengan ukuran seragam ±10% variasi, yang sesuai dengan standar pasar ekspor dan restoran bintang lima. Hasil ini lebih unggul dibandingkan sistem konvensional yang hanya mampu menghasilkan rata-rata 300–350 gram per ekor dengan variasi ukuran sangat tinggi. Selain itu, survival rate budidaya VertiCrab mencapai lebih dari 90%, berdasarkan uji coba di tiga siklus budidaya sepanjang 2024, yang menunjukkan efisiensi produksi dan kepastian pasokan bagi konsumen. Solusi ini juga mengatasi keluhan rasa dan kebersihan. Kepiting yang dibudidayakan dalam sistem tertutup VertiCrab terbukti memiliki tingkat kekeruhan air di bawah 10 NTU (nephelometric turbidity units), angka yang sangat rendah karena adanya filtrasi dan penggunaan mikroba lokal, sehingga menghasilkan daging yang bersih, tidak amis, dan bercita rasa segar. Hal ini menjadi nilai jual utama (unique selling point) VertiCrab bagi konsumen. Solusi ini tidak hanya meningkatkan kualitas hasil panen, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi konsumen dalam bentuk mutu produk yang konsisten, ramah lingkungan, dan bernilai ekspor tinggi. 3. Produk Market Fit Produk Verticrab adalah kepiting bakau premium hasil budidaya vertikal yang menggunakan teknologi otomatisasi. Pertumbuhan kepiting ini berlangsung secara seragam, dengan cangkang yang keras dan tekstur daging yang padat sehingga sangat sesuai untuk pasar premium baik di dalam negeri maupun pasar ekspor. Produk VertiCrab, yaitu kepiting bakau premium berbobot rata-rata di atas 450 gram per ekor, sangat sesuai dengan kebutuhan pasar yang semakin gencar mencari seafood berkualitas tinggi baik di dalam negeri maupun ekspor. Pasar global untuk kepiting saat ini memiliki nilai sekitar USD 3,34 miliar di tahun 2023 dengan pertumbuhan tahunan rata-rata +3,4% dan diprediksi mencapai USD 4,21 miliar pada tahun 2030. Sebesar 46–48% pasar di antaranya adalah produk beku dan segar hidup menunjukkan tingginya permintaan konsumen akan kepiting kualitas tinggi (Kementrian Kelautan dan Perikanan, 2023). Secara volume, konsumsi global kepiting dan daging kepiting mencapai 3,6 juta ton pada tahun 2024, dan diperkirakan terus meningkat dengan tren konsumsi naik 2,4% per tahun sejak 2013. Indonesia sendiri menempati urutan kedua terbesar di dunia dari sisi volume konsumsi, dengan 402 ribu ton per tahun—atau sekitar 1,412 kg per orang per tahun. Pertumbuhan konsumsi tinggi (+15,7% CAGR dari 2013–2024) memperlihatkan peluang besar untuk produk premium seperti VertiCrab. Selain itu, tren global juga menunjukkan permintaan terus meningkat terhadap seafood premium, terbukti dari tren makanan laut eksotis di kalangan konsumen di negara maju dan berkembang . Konsumen semakin menyadari manfaat kesehatan kepiting yaitu protein tinggi, rendah lemak, sumber omega 3, dan mineral penting seperti selenium dan zink membuat kepiting menjadi opsi yang semakin populer. Dalam kerangka Value Proposition Design, VertiCrab menjawab kebutuhan utama konsumen (job to be done) yaitu memperoleh kepiting segar berkualitas tinggi secara konsisten. Konsumen pasar premium dan ekspor sering menghadapi masalah (pain) berupa produk tidak seragam, daging kurang padat, serta tingkat kematian tinggi dalam pengiriman. VertiCrab hadir sebagai solusi dengan menghasilkan kepiting yang memiliki bobot konsisten di atas 450 gram, tekstur daging padat, dan kualitas air budidaya yang dijaga stabil, sehingga mengurangi risiko kematian dan menjamin kesegaran produk (gain). Dashboard IoT untuk pemantauan juga menjadi nilai tambah bagi mitra distribusi dan investor dalam menjamin transparansi dan kontrol mutu. Keunikan inovasi Verticrab terletak pada integrasi teknologi IoT dengan sistem budidaya vertikal tertutup pada sistem budidayanya yang belum diterapkan oleh pembudidaya lain. Sistem ini juga memungkinkan penggunaan air secara efisien melalui sistem resirkulasi. Inovasi ini juga menghadirkan dashboard pemantauan jarak jauh yang memungkinkan pengelola mengakses data kondisi budidaya secara real-time, sehingga keputusan dapat diambil secara cepat dan akurat. Riset yang melatarbelakangi inovasi ini dilakukan melalui studi literatur dan observasi lapangan sederhana mengenai sistem budidaya kepiting yang umum digunakan, khususnya terkait kualitas air dan tingkat kelangsungan hidup. Kami juga mendapat arahan dari dosen pembimbing dalam memahami potensi penerapan sistem Recirculating Aquaculture System (RAS) dan teknologi sensor dasar untuk memantau parameter penting seperti suhu, pH, dan amonia (Panjaitan et al., 2025). Dalam operasionalnya, VertiCrab memanfaatkan bahan-bahan lokal yang mudah diakses, seperti bak fiber dari produsen domestik, serta pakan yang mduah didapatkan. Jika dibandingkan dengan budidaya konvensional yang masih bergantung pada sistem tambak terbuka dengan risiko fluktuasi kualitas air tinggi dan padat tebar yang tidak terkendali, sistem VertiCrab justru memungkinkan kontrol menyeluruh melalui pengaturan suhu, pH, dan kadar amonia. Hal ini memungkinkan kualitas hasil panen lebih konsisten dan risiko kematian menurun hingga di bawah 10%, dibandingkan rata-rata 30–40% pada budidaya konvensional. 2.4 Pemasaran 2.4.1 Strategi Pemasaran Verticrab mengadopsi strategi Business-to-Business (B2B) sebagai pendekatan utama dalam pemasaran produk kepiting bakau premium. Fokus strategi ini adalah membangun hubungan jangka panjang dengan mitra seperti restoran dan distributor seafood, terutama di kawasan Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan sekitarnya. Pendekatan ini menekankan nilai kemitraan strategis yang saling menguntungkan, bukan hanya transaksi satu arah. Nilai jual utama yang ditawarkan adalah kualitas produk yang konsisten yaitu kepiting dengan bobot rata-rata di atas 450 gram, daging padat, dan tingkat kelangsungan hidup tinggi yang dihasilkan dari sistem budidaya vertikal berbasis teknologi IoT. 2.4.2 Saluran Distribusi Untuk menjangkau pasar secara lebih luas, Verticrab menggunakan berbagai saluran distribusi yang dikategorikan sebagai berikut: Penjualan online: produk Verticrab tersedia melalui situs web resmi dan telah dipasarkan melalui platform e-commerce yaitu Shopee, yang memungkinkan konsumen melakukan pembelian secara praktis, cepat, dan dapat diakses dari berbagai lokasi. Langkah selanjutnya, Verticrab berencana untuk memperluas kanal distribusi digital dengan memanfaatkan seluruh platform e-commerce utama di Indonesia seperti Tokopedia, Bukalapak, Lazada, dan Blibli, guna menjangkau lebih banyak konsumen. Selain itu, strategi ini mendukung penguatan brand awareness dan peningkatan pengalaman pelanggan melalui kemudahan transaksi, integrasi pembayaran digital, serta layanan pengiriman yang efisien. Distributor dan Agen Lokal: Verticrab menjalin kerja sama dengan sejumlah distributor dan agen di wilayah Surabaya Raya untuk memperluas akses fisik konsumen terhadap produk, khususnya di titik-titik yang dekat dan mudah dijangkau. Salah satu contoh sasaran dari VertiCrab adalah Superindo. Proses menjalin kerja sama dilakukan dengan menawarkan secara langsung produk VertiCrab kepada distributor/agen. Retail dan Horeka (Restoran): Verticrab menargetkan distribusi produk ke supermarket seperti Superindo dan jaringan restoran seafood premium. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat eksistensi merek di titik penjualan strategis serta meningkatkan kredibilitas produk di mata pasar premium. 2.4.3 Strategi Promosi Promosi produk dilakukan melalui pendekatan yang menyasar kesadaran merek, loyalitas pelanggan, serta nilai keberlanjutan. Strategi yang diterapkan meliputi: Program Diskon dan Loyalty: Pemberian diskon berkala serta program loyalitas bagi konsumen tetap. Kampanye Branding: Verticrab membangun identitas merek dengan membuat logo yang profesional dan slogan yang mudah diingat, sambil mengedepankan nilai-nilai keberlanjutan, teknologi, dan kualitas. Aktivasi Digital: Pemanfaatan media sosial dan konten edukatif melalui Instagram, TikTok, Facebook mengenai budidaya berkelanjutan serta keunggulan produk, untuk menarik perhatian target pasar dan memperluas jangkauan audiens secara digital. Kemitraan Promosi: Kerja sama promosi dilakukan dengan organisasi lingkungan dan komunitas bisnis yang memiliki visi keberlanjutan serupa, untuk memperkuat positioning Verticrab sebagai brand ramah lingkungan dan berdampak sosial. 2.4.4 CRM Manajemen hubungan pelanggan (CRM) Verticrab difokuskan pada membangun komunikasi yang responsif dan hubungan jangka panjang dengan mitra bisnis maupun pelanggan langsung. Upaya yang dilakukan antara lain: Layanan Responsif dan Terintegrasi: VertiCrab menyediakan layanan pelanggan yang cepat dan profesional melalui WhatsApp Business, email, dan media sosial. Tim admin khusus menangani komunikasi dengan mitra, dengan target respons maksimal 1x24 jam. Selain itu, tersedia panduan digital dan FAQ untuk memudahkan mitra dalam memahami produk dan sistem budidaya. Monitoring Kepuasan dan Evaluasi Layanan: Survei kepuasan dilakukan setiap tiga bulan untuk menilai kualitas produk, ketepatan pengiriman, dan layanan pelanggan. Umpan balik dari mitra digunakan untuk perbaikan layanan, dan keluhan ditangani melalui form pelaporan digital dengan tindak lanjut seperti kompensasi atau penggantian produk. Informasi dan Komunikasi Berkala: VertiCrab rutin mengirimkan informasi terkait jadwal panen, ketersediaan stok, dan harga melalui grup WhatsApp dan newsletter. Mitra juga mendapat akses ke kalender produksi digital dan info pre-order agar dapat merencanakan kebutuhan secara efisien. Program Loyalitas dan Penawaran Eksklusif: Mitra tetap memperoleh harga khusus, prioritas pengiriman, dan akses ke produk premium. VertiCrab juga menawarkan kerja sama co-branding dengan restoran sebagai bentuk kemitraan strategis jangka panjang. Pelatihan dan Pendampingan Teknis: VertiCrab memberikan pelatihan gratis bagi mitra pembudidaya terkait penggunaan sistem budidaya IoT. Setelahnya, mitra tetap mendapat pendampingan teknis dan layanan troubleshooting. 2.5 Sumber Daya 2.5.1 Sumber Daya Manusia (SDM) Gambar 2.6 Struktur Organisasi VertiCrab Berdasarkan gambar 2.6 di atas, berikut adalah detail deskripsi pekerjaan dari masing-masing posisi strukutr organisasi: Chief Executive Officer (CEO) Salwa Dzanur Royana, mahasiswa Teknik Instrumentasi Menentukan arah strategis VertiCrab Mengawasi seluruh aspek operasional dan kinerja tim melalui rapat evaluasi minimal 2 kali per bulan Menjalin kemitraan strategis dengan investor, mitra usaha, dan pemerintah Bertanggung jawab atas pencapaian target dan keberlanjutan bisnis Chief Operating Officer (COO) Muhammad Alif Al Ayyubi, mahasiswa Teknik Instrumentasi Mengelola kegiatan operasional harian budidaya kepiting Memastikan sistem vertikal dan IoT berjalan optimal dengan melakukan pengecekan sistem IoT minimal 1 kali setiap minggu dan mencatat performa Mengatur logistik produksi, distribusi, dan pengemasan Mengawasi efisiensi penggunaan sumber daya (pakan, air, listrik) Chief Marketing Officer (CMO) Saidatul Rohmah, mahasiswa Biologi Menyusun dan menjalankan strategi pemasaran online dan offline Mengelola branding VertiCrab dan komunikasi visual produk Membuka dan mengelola pasar Mengelola akun media sosial, kampanye digital, dan hubungan pelanggan Menganalisis tren pasar dan perilaku konsumen untuk mengarahkan promosi Chief Financial Officer (CFO) Nita Ardhiani Sa.adah, mahasiswa Statistika Bisnis Mengelola keuangan harian, pemasukan, dan pengeluaran bisnis Menyusun laporan keuangan bulanan dan tahunan Merancang anggaran belanja dan alokasi dana operasional dengan margin kesalahan <10% Melakukan evaluasi keuangan dan efisiensi bisnis tiap 3 bulan (bantu CEO & COO mengambil keputusan berbasis data) Chief Creative Officer (CCO) Zara Aprilia Putri Wibowo, mahasiswa Desain Komunikasi Visual Mengelola tampilan visual merek dan produk VertiCrab Menciptakan konten kreatif untuk media sosial, video promosi, dan branding digital Menjaga konsistensi identitas merek di seluruh platform komunikasi Berkolaborasi dengan CMO untuk kampanye visual yang menarik dan tepat sasaran 2.5.2 Sumber Daya Fisik Dalam usaha budidaya kepiting Verticrab, sumber daya fisik yang dimiliki meliputi 30 dan 80 unit box budidaya vertikal (total: 110 box), serta peralatan monitoring berbasis IoT seperti sensor pH, suhu, dan salinitas, dilengkapi dengan perangkat kontrol otomatis. Gambar 2.7 menunjukkan box budidaya dengan total 30 box. Setelah memperoleh pendanaan, VertiCrab berencana menambah kapasitas sebanyak 30 box budidaya untuk meningkatkan volume produksi. Pengembangan ini diharapkan dapat memperkuat rantai pasok dan memperluas kapasitas layanan VertiCrab ke pasar yang lebih luas. Gambar 2.7 Vertikal Box Budidaya Kepiting Kegiatan operasional dilakukan di atas lahan seluas 5×8 meter yang telah dioptimalkan untuk sistem budidaya vertikal. Ke depannya, pengembangan usaha mencakup penyediaan fasilitas penyimpanan hasil panen dan ruang pengemasan untuk mendukung kelancaran proses pascapanen dan distribusi. Selain itu, VertiCrab juga memanfaatkan fasilitas Laboratorium Safety Instrumented System (SIS) Departemen Teknik Instrumentasi sebagai pusat pengujian dan pengembangan teknologi pemantauan otomatis. Laboratorium ini dilengkapi dengan perangkat pengujian sensor untuk pengujian sensor sebelum digunakan. 2.5.3 Sumber Daya Finansial Sumber daya finansial menjadi faktor krusial dalam mendukung keberlanjutan operasional VertiCrab. Saat ini, pendanaan usaha berasal dari dana pribadi dan hasil penjualan produk secara bertahap. Pendanaan awal difokuskan untuk riset dan pengembangan sistem budidaya. Selanjutnya, VertiCrab menerima pendanaan usaha tahap awal dari IYT ITS, diikuti oleh pendanaan untuk pengembangan bisnis dari HETI ITS. Modal tersebut digunakan untuk pengembangan sistem budidaya, pembelian peralatan, serta biaya operasional seperti pakan, listrik, dan tenaga kerja. Ke depan, VertiCrab berencana untuk mengambil peluang pendanaan dari investor strategis guna mempercepat ekspansi usaha, meningkatkan kapasitas produksi, serta memperluas jangkauan pasar. 2.5.4 Sumber Daya Informasi dan teknologi Sumber daya ini mencakup perangkat lunak dan perangkat keras yang digunakan untuk mengoptimalkan proses budidaya dan pengelolaan usaha. Verticrab mengadopsi teknologi IoT untuk pemantauan dan pengendalian kualitas air secara real-time, sehingga dapat memastikan kondisi lingkungan budidaya ideal untuk pertumbuhan kepiting. Selain itu, sistem manajemen data digital digunakan untuk pencatatan produksi, analisis performa budidaya, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Penggunaan teknologi juga memperkuat aspek keamanan pangan dan pelacakan produk hingga ke tangan konsumen. Gambar 2.8 Aplikasi dan Panel Box Sistem VertiCrab 2.5.5 Sumber Daya Non Fisik Selain dukungan fisik dan teknologi, VertiCrab juga memiliki sumber daya non-fisik yang sangat krusial, yaitu pendampingan dari mentor berpengalaman yang telah membimbing usaha ini selama lebih dari dua tahun. VertiCrab mendapatkan mentoring intensif dari dua kegiatan pendaanaan dari ITS yaitu Indonesian Young Technopreneur (IYT) dan HETI. Melalui kegiatan ini, tim VertiCrab dibekali pengetahuan praktis mengenai manajemen bisnis, pengembangan produk, strategi pasar, dan penerapan teknologi terapan di sektor perikanan. Selain itu, VertiCrab juga telah menjalin kemitraan langsung dengan nelayan kepiting bakau lokal di wilayah pesisir Surabaya, sebagai bagian dari komitmen pemberdayaan ekonomi dan pembangunan rantai pasok yang inklusif. Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat ketersediaan pasokan bahan baku berkualitas tinggi, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di tingkat akar rumput. 2.6 Keuangan Siklus panen: setiap 3 bulan dengan kapasitas 110 box Target panen setiap tiga bulan: 77 Kg Harga per kilogram: Rp 280.000 2.6.1 Biaya Produksi (HPP) Tabel 2.1 Perhitungan Biaya Porduksi (HPP) Komponen Biaya Biaya Volume Satuan Total Bibit kepiting Rp 50.000 110 Ekor Rp 5.500.000 Pakan & suplemen Rp 30.000 3 Kg Rp 90.000 Listrik & air Rp 150.000 3 Bulan Rp 450.000 Tenaga kerja (proporsional) Rp 20.000 110 Orang Rp 2.200.000 Overhead (alat, box, maintenance) Rp 250.000 3 Bulan Rp 750.000 Total HPP Rp 8.990.000 2.6.2 Laba Kotor Tabel 2.2 Perhitungan Laba Kotor Komponen Nilai Total Penjualan Rp 21.714.000 Total HPP Rp 8.990.000 Laba Kotor Rp 12.724.000 2.6.3 Beban Operasional (Fixed Cost) Tabel 2.3 Perhitungan Beban Operasional kuartal (Fixed Cost) Komponen Biaya Sewa lahan Rp 1.000.000 Gaji tim Rp 2.000.000 Marketing dan distribusi Rp 700.000 Admin & maintenance IoT Rp 500.000 Total Biaya Tetap Rp 4.200.000 2.6.4 Laba Bersih Tabel 2.4 Perhitungan Laba Bersih Komponen Nilai Laba Kotor Rp 12.724.000 Biaya Tetap Rp 4.200.000 Laba Bersih Rp 8.524.000 2.6.5 Break Even Point (BEP) Harga Jual per kg: Rp 280.000 HPP per kg: 8.990.000/(77 kg) = Rp 116.754 Margin Kontribusi per kg: 58.3% yaitu Rp 163.246 Biaya tetap per siklus (3 bulan): Rp 4.200.000 BEP (kg): BEP = (Biaya Tetap)/(Margin Kontribusi per Kg) = 4.200.000/163.246 ≈ 26 kg Maka, VertiCrab perlu menjual minimal 26 kg kepiting untuk mencapai titik impas (balik modal operasional). 2.6.6 Poryeksi Keuangan VertiCrab (2025-2029) Tabel 2.5 proyeksi Keuangan 5 Tahun Kedepan Tahun Produksi (kg) Pendapatan (Rp) HPP Total (Rp) Laba Kotor (Rp) Biaya Operasional (Rp) Laba Bersih (Rp) 2025 332 92.960.000 46.179.124 46.780.876 24.800.000 21.980.876 2026 398 (+20%) 111.440.000 55.355.940 56.084.060 28.000.000 28.084.060 2027 478 (+20%) 133.840.000 66.427.128 67.412.872 32.000.000 35.412.872 2028 574 (+20%) 160.720.000 79.851.118 80.868.882 37.000.000 43.868.882 2029 689 (+20%) 192.920.000 95.860.173 97.059.827 43.000.000 54.059.827

Penutup : VertiCrab Indonesia merupakan inovasi budidaya kepiting yang mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) dengan sistem vertical farming untuk menciptakan metode produksi yang efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Dengan fokus pada efisiensi ruang, kualitas hasil panen, serta monitoring lingkungan secara real-time, VertiCrab menawarkan solusi yang kompetitif dan relevan dengan tantangan industri perikanan modern. Melalui pendekatan ini, VertiCrab tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan petani dan peluang ekspor, tetapi juga mendukung pencapaian berbagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), seperti SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan SDG 14 (Ekosistem Laut). Selain itu, VertiCrab hadir sebagai solusi nyata dalam mendukung keberlanjutan perikanan nasional, dengan mengurangi ketergantungan pada penangkapan liar dan memanfaatkan sistem budidaya yang terkontrol dan efisien. Di tengah permintaan pasar kepiting yang terus meningkat secara global—terutama dari negara-negara Asia seperti Tiongkok, Singapura, dan Hong Kong—usaha ini memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Dengan strategi berbasis teknologi dan orientasi pasar ekspor, VertiCrab siap mengambil peran penting dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen kepiting bakau premium yang berdaya saing tinggi di pasar internasional. Dengan komitmen terhadap riset, pengembangan produk, serta ekspansi pasar, VertiCrab Indonesia siap menjadi pelopor dalam modernisasi budidaya kepiting di Indonesia.