Nama Bisnis : TANAHMU Inovasi Pupuk Berbasis Limbah Cangkang Tiram Cangkang Telur dan Daun Gamal sebagai Solusi Rehabilitasi Lahan Sub Optimal dalam Upaya Peningkatan Produktivitas Pertanian
Kategori Usaha : Budidaya
Tahapan Usaha : Tahapan Awal
Merek/ Nama Produk : TANAHMU
Nama Komunitas :
NIB : 2208250097949
Tahun NIB : 2025
Nama Institusi : Universitas Hasanuddin
Platform Penjualan : WhatsApp, Instagram, TikTok, Facebook
Akun Media Sosial : _salnatureteam
Situs Bisnis :
Lokasi Bisnis : Jl. Maccini Sawah No.18
Link GMaps : https://maps.app.goo.gl/oL9p29A2fV9jj9Cu6
Latar Belakang : Lahan suboptimal merupakan lahan dengan kesuburan fisik dan biologi yang rendah. Lahan ini memerlukan upaya pembenah tanah untuk memperbaiki kesuburan tanah juga untuk mendukung produktivitas tanah maupun tanaman. Indonesia memiliki jutaan hektar lahan suboptimal, dimana data dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) tahun 2024 memperlihatkan Sulawesi memiliki 10.301.110 hektar lahan suboptimal, dengan 2.265.084 hektar berada di Sulawesi Selatan. Saat ini lahan pertanian mengalami masalah serius, berupa pengalih fungsian lahan subur untuk kepentingan non-pertanian (Triwanto,2024). Kondisi ini memaksa pemanfaatan lahan suboptimal, khususnya lahan kering masam yang memiliki karakteristik pH rendah dan tingkat kemasaman tinggi menjadi lahan pertanian (Irwan et al., 2015). Tim SALNATURE telah melakukan riset di beberapa wilayah, seperti Makassar, Maros, dan Gowa, terungkap bahwa masalah utama yang dihadapi para petani, yaitu tingginya biaya pemupukan. Petani harus menggunakan dua jenis pupuk yang berbeda di awal penanaman: satu untuk memperbaiki struktur tanah, dan satu lagi untuk menetralkan pH tanah. Di sisi lain, kami juga menemukan masalah lain yang berada di wilayah Barru dan Takalar. Penumpukkan limbah cangkang tiram dalam waktu lama telah mengganggu kenyamanan warga karna telah menimbulkan bau tak sedap dan merusak estetika lingkungan.
Deskripsi Usaha : Pupuk TANAHMU merupakan inovasi pupuk organik yang hadir untuk menyelesaikan permasalahan pertanian di Indonesia. Dengan judul "TANAHMU: Inovasi Pupuk Berbasis Limbah Cangkang Tiram, Cangkang Telur, dan Daun Gamal sebagai Solusi Rehabilitasi Lahan Sub-Optimal Dalam Upaya Peningkatan Produktivitas Pertanian". Pupuk TANAHMU dirancang dengan konsep 2 in 1, yang tidak hanya berfungsi merehabilitasi struktur dan sifat kimia pada tanah tetapi juga mengoptimalisasi pertumbuhan pada tanaman. Dengan pupuk TANAHMU, petani tidak perlu lagi menggunakan dua jenis pupuk yang berbeda, sehingga dapat menekan biaya pengeluaran pupuk secara signifikan dan mendorong praktik pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan. Untuk merehabilitasi lahan suboptimal, diperlukan suatu senyawa berupa kalsium karbonat dan berbagai mineral yang dapat memperbaiki struktur tanah dan sifat kimia tanah. Senyawa ini, dapat ditemukan pada cangkang tiram dan cangkang telur. Harahap tahun 2024 menyatakan bahwa cangkang tiram mengandung senyawa kalsium karbonat (CaCO3) dan mineral mikro yang berfungsi untuk menetralkan pH tanah dan memperbaiki struktur tanah. sedangkan Inda2023 menemukan bahwa, cangkang telur selain mengandung kalsium karbonat (CaCO3) juga mengandung berbagai mineral penting seperti fosfor, kalium, dan magnesium yang berperan dalam penambahan unsur hara organik dan meningkatkan kesuburan tanah. Disisi lain, untuk mendukung optimalisasi pertumbuhan tanaman diperlukan unsur hara mencakup nitrogen, fosfor, kalium, kalsium dan magnesium, yang dapat ditemukan pada daun gamal. Hal ini sesuai dengan penelitian Farisa tahun 2023. Oleh karena itu, dengan kandungan nutrisi yang seimbang dan ramah lingkungan, Pupuk TANAHMU hadir untuk memperbaiki kualitas tanah sekaligus memastikan tanaman dapat tumbuh optimal. Tentu saja pemilihan bahan baku ini didasarkan atas ketersediaan dan kontinuitas yang tinggi di wilayah Sulawesi Selatan, khususnya di daerah Barru, Takalar, Maros, dan Makassar.
Penutup : Besar harapan kami agar inovasi pupuk TANAHMU dapat menjadi solusi inovatif bagi permasalahan lahan pertanian, petani, sekaligus dapat berkontribusi dalam pengurangan limbah khususnya di Sulawesi Selatan.
