Nama Bisnis : PRASI Produk Suvenir Khas Bali Berbahan Dasar Daun Lontar
Kategori Usaha : Industri Kreatif, Seni, dan Budaya
Tahapan Usaha : Tahapan Bertumbuh
Merek/ Nama Produk : Produk Suvenir Khas Bali Berbahan Dasar Daun Lontar
Nama Komunitas : -
NIB : 0706240063343
Tahun NIB : 2024
Nama Institusi : Universitas Udayana
Platform Penjualan : Tokopedia dan Shopee
Akun Media Sosial : @prasi.id
Situs Bisnis : -
Lokasi Bisnis : JALAN KALANTAKA, Desa/Kelurahan Gianyar, Kec. Gianyar, Kab. Gianyar, Provinsi Bali
Link GMaps : https://maps.app.goo.gl/aUfjrHuMYG6H3NtC9?g_st=com.google.maps.preview.copy
Latar Belakang : Ketika mendengar kata Bali, hal pertama yang terlintas dalam pikiran adalah pulau yang sarat akan budaya dan tradisi. Hal itulah yang menjadi daya tarik bagi pulau Bali, selain terkenal akan wisata alamnya Bali juga memiliki keunikan dan potensi tersendiri dalam bidang seni dan budaya. Salah satu bentuk kesenian dari pulau Bali adalah seni prasi. Prasi merupakan gambar atau lukisan yang dibuat dengan cara diukir di atas daun lontar. Seni lukis ini diperkirakan sudah ada dan berkembang pada akhir abad ke-15, kemudian tumbuh subur ke abad 16, pada pemerintahan dalem gelgel di Kabupaten Klungkung. Tetapi ternyata, kesenian lontar ini jarang diketahui banyak orang dan bahkan dianggap sebagai sesuatu yang jauh dengan dengan mereka. Melalui diskusi dan tukar pendapat di lingkungan teman sebaya dan juga anak-anak, penyebab ditinggalkannya budaya melontar ini adalah karena kesan ekslusif dan tenget (sakral) dari seni lontar ini yang menjadikan anak-anak muda Bali enggan untuk menyentuh seni tersebut. Disisi lain, pemahaman mereka hanya melihat bahwa seni lontar dianggap hanya untuk menulis suatu karya sastra yang sifatnya kaku dan kuno, padahal seni menuangkan ide di daun lontar bukan hanya berfokus pada hal tersebut melainkan juga ada seni prasi yang berupa kegiatan menggambar di daun lontar. Seni prasi ini apabila dilihat ternyata memiliki banyak peminat sehingga cocok untuk dijadikan suatu produk kerjainan yang dapat dijual karena memiliki nilai komersial yang tinggi, permasalahanya adalah di komersialisasi produk dan pengenalan produk prasi tersebut. Banyak pencinta seni yang mulai mencari alternatif koleksi seni dari yang awalnya lukisan di kanvas kemudian mencari media lukis lainnya, oleh karena itu apabila berhasil dalam mengenalkan lebih luas seni prasi, maka pasar dan peminat prasi akan lebih luas. Dengan demikian, gagasan untuk menjadikan seni prasi sebagai produk yang diperjualbelikan secara luas adalah ide yang kami rasa tepat. Selain itu cerita dan latar belakang dari prasi sebagai suatu karya seni yang berlatar budaya bali menjadikan prasi sebagai produk seni dengan cerita dan nilai filosofi yang tinggi dan akan dapat meningkatkan nilai jual dari karya. Atas latar belakang tersebut, kami pun memutuskan untuk mengajukan usaha yang Bernama PRASI. Nama usaha PRASI ini diambil dari nama seni prasi merupakan seni melukis di daun palem (lontar). Nama usaha PRASI ini juga merupakan akronim dari The Palm-leaf Representative: Artistry of Sacred Icon, yang bermakna cita cita untuk merepresentasikan seni budaya lokal berupa kegiatan menciauangkan ide di daun lontar yang sudah ada turun temurun lalu menjadikannya sebagai suatu ikon budaya yang dapat diterima secara universal. Selain itu, ketika seseorang berkunjung ke Bali suvenir atau oleh-oleh yang wisatawan ketahui kebanyakan hanya berupa makanan saja, tetapi belum ada suvenir yang benar-benar mencirikan Bali serta memberikan kesan yang maksimal. Selain adanya alasan diatas, alasan kami mengajukan usaha ini adalah tidak semua orang memiliki keterampilan dan kemampuan menulis maupun melukis di atas daun lontar dan kami yakin usaha PRASI ini dapat membvantu menciptakan lapangan pekerjaan bagi para seniman dan anak muda berbakat Bali agar dapat terus berkarya dan mengembangkan potensinya. Dengan adanya usaha PRASI ini juga, kami juga memiliki misi dalam pengenalan secara luas kesenian lokal Bali agar dikenal di kancah nasional maupun internasional.
Deskripsi Usaha : PRASI adalah usaha kreatif yang berfokus pada pelestarian dan pengembangan seni lukis lontar khas Bali sebagai karya seni bernilai tinggi sekaligus produk suvenir berkarakter budaya. Melalui karya lukisan di atas daun lontar, PRASI berupaya mengenalkan kembali warisan seni tradisional Bali kepada masyarakat luas dengan sentuhan inovatif yang tetap menjaga nilai autentiknya. Selain menghidupkan kembali seni prasi yang mulai dilupakan, PRASI juga memiliki tujuan sosial dan lingkungan yang kuat: Memberdayakan petani lontar di Karangasem dan Buleleng dengan menjadikan daun lontar sebagai bahan utama berkarya. Mengolah limbah upacara adat seperti daun dan bambu menjadi produk seni bernilai ekonomis, sehingga membantu menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Memberdayakan generasi muda Bali yang memiliki kemampuan melukis prasi agar dapat berkarya dan memperoleh penghasilan berkelanjutan. Produk PRASI memiliki keunikan dan diferensiasi pada medianya — menggunakan daun lontar sebagai kanvas, dipadukan dengan teknik tradisional dan gaya lukis modern sesuai permintaan pelanggan. Setiap karya dibuat secara handmade, bermakna, dan tahan lama hingga puluhan tahun. Dengan harga terjangkau (Rp150.000–Rp250.000), PRASI menargetkan pasar wisatawan lokal maupun mancanegara yang mencari suvenir khas Bali yang berbudaya dan beretika. Promosi dilakukan melalui media sosial dan kolaborasi dengan toko seni serta pelaku pariwisata untuk memperluas jangkauan pasar. Melalui setiap karya yang dihasilkan, PRASI tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga menghidupkan kembali warisan budaya, memberdayakan masyarakat, dan menjaga alam Bali.
Penutup : Demikian proposal ini disusun dalam rangka kegiatan Pelatihan Program Mahasiswa Wirausaha (P2MW) sekaligus memperluas wawasan dan ilmu pengetahuan tentang peluang usaha yang diharapkan dapat menjadi awalan yang baik untuk membangun minat usaha. Kami selaku penulis menyimpulkan bahwa, berdirinya PRASI telah didukung dengan alasan sosiologis dan ekonomi masyrakat. Secara sosiologis masyarakat Bali memang dikenal hidup dengan seni dan budaya, secara ekonomis kemampuan seni dan budaya masyarakat Bali perlu untuk dikembangkan, oleh karena hal tersebut hadirlah PRASI untuk memenuhi tuntutan keadaan tersebut. Kami selaku penulis menyadari bahwa di dalam penyusunan proposal ini tentunya memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik, sran, dan masukan yang membangun dari berbaga pihak demi kesempurnaan proposal ini kedepannya. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kesusksesan penyusunan proposal dan pendirian usaha PRASI ini.
