Nama Bisnis : TRANSFORMASI LIMBAH MENJADI PELUANG DARLING MART SEBAGAI INDUSTRI INOVATIF BERBASIS DAUR ULANG DI KOTA TARAKAN
Kategori Usaha : Industri Kreatif, Seni, dan Budaya
Tahapan Usaha : Tahapan Awal
Merek/ Nama Produk : DARLING MART
Nama Komunitas : UKM START UP UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
NIB : 2409250062345
Tahun NIB : 2025
Nama Institusi : Universitas Borneo Tarakan
Platform Penjualan : Penjualan langsung (door to door), Pameran/Bazar, dan Media Sosial (Instagram, WhatsApp Business)
Akun Media Sosial : darlingmart__
Situs Bisnis : https://www.instagram.com/darlingmart__?igsh=NjczcWg3d2x2eXJ6
Lokasi Bisnis : Jln. Pulau Banda, Kel. Kampung Satu Skip, Kec. Tarakan Tengah, Kota Tarakan
Link GMaps : https://maps.app.goo.gl/TnJEeWkPc59bN3Qi7
Latar Belakang : Kota Tarakan adalah salah satu daerah yang ada di Provinsi Kalimantan Utara dengan jumlah penduduk 280.221 jiwa dan luas wilayah 677.53 km2. Tarakan merupakan daerah dengan jumlah penduduk yang paling tinggi dan terpadat di Provinsi Kalimantan Utara, yang sekaligus menjadi pusat transit dan pusat perdagangan di Kalimantan Utara. Oleh karena itu, Tarakan mendapat julukan dari warga lokal sebagai “Tarakan Kota Singgah.” Di balik keunggulan tersebut, Tarakan juga menghadapi beberapa tantangan, salah satunya terkait limbah, yang merupakan masalah serupa yang dihadapi oleh beberapa kota berkembang atau maju lainnya. Namun, kurangnya sikap inovatif dari masyarakat Tarakan, menjadikan hal ini sebagai tantangan yang serius. Oleh karena itu, hadirnya karya tulis ini merupakan salah satu bentuk kesadaran penulis (mahasiswa) sebagai bagian dari kaum terpelajar di Tarakan, untuk menyikapi tantangan tersebut. Pantai Amal Lama di Kota Tarakan menghadapi permasalahan signifikan terkait limbah sampah plastik. Pada kegiatan World Cleanup Day (WCD) yang dilaksanakan pada 21 September 2019, total sampah yang berhasil dikumpulkan mencapai 847 kg. Dari jumlah tersebut, sampah yang berasal dari warga sekitar pantai mencapai 385 kg (45,45%), sampah dari alam 254 kg (29,99%), sampah dari kegiatan budidaya rumput laut 192 kg (22,67%), dan sampah dari wisatawan lokal 16 kg (1,89%). Berdasarkan data di atas, kami membuat industri kreatif bernama Darling Mart, yang mengolah limbah menjadi produk dengan nilai jual. Hal ini sejalan dengan tujuan SDGs yang mendorong sumber daya manusia (masyarakat) untuk berinovasi, bahkan dengan memanfaatkan limbah sekalipun. Limbah tersebut akan melalui proses daur ulang, sehingga memiliki nilai jual dengan potensi pasar yang besar. Tujuan SDGs yang relevan dengan inisiatif ini meliputi tujuan ke-9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), tujuan ke-11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), dan tujuan ke-12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Ketiga poin ini menjadikan Darling Mart sebagai gerakan inovasi yang digagas oleh mahasiswa di Tarakan, untuk mendukung pencapaian tujuan internasional SDGs sebagai pondasi bagi keberlangsungan hidup yang berkelanjutan. Darling Mart memiliki beberapa produk unggulan yang telah dikembangkan, antara lain: Pertama, Kapsurula (Kapsul Pelampung Rumput Laut), merupakan alat yang digunakan untuk membudidayakan rumput laut. Pada awalnya, masyarakat Tarakan menggunakan botol plastik karena harganya yang lebih murah. Kehadiran Kapsurula menjawab tantangan harga sekaligus mengatasi masalah limbah yang ditimbulkan dari penggunaan botol plastik. Kedua, Bean Bag, merupakan kursi yang fleksibel karena dapat menyesuaikan dengan bentuk tubuh penggunanya. Produk ini adalah salah satu hasil unggulan penulis, mengingat Tarakan dikenal sebagai “Kota Seribu Cafe.” Kehadiran Bean Bag memanfaatkan limbah, seperti sisa dari budidaya rumput laut, yaitu jaringnya, serta beberapa jenis limbah empuk lainnya. Selain itu, produk Darling Mart juga mengandung unsur budaya khas Kalimantan Utara, seperti: Pertama, meja portabel, yang memanfaatkan limbah plastik dan limbah kertas dengan hiasan dan motif budaya Kalimantan Utara. Kedua, asbak rokok, yang memanfaatkan limbah jenis plastik keras, seperti tutup botol atau limbah HDPE (High-Density Polyethylene), dengan tambahan motif budaya Kalimantan Utara. Dengan adanya keempat produk tersebut, kami berharap karya tulis ini dapat bermanfaat untuk keberlangsungan hidup masyarakat, karena mudah untuk ditiru dan dikembangkan lebih lanjut. Namun, keterbatasan teknologi membuat penulis hanya dapat memaksimalkan produk-produk ini hingga pada titik mampu bersaing dengan produk baru. Menurut Dr. Seuss (The Lorax, 1971), Waste is a terrible thing to mind — recycle it instead. Dalam Bahasa Indonesia, ''Sampah adalah hal yang sia-sia untuk diabaikan, sebaiknya didaur ulang.'' Pernyataan ini menjadi pondasi penting, yang jika dilaksanakan bersama-sama, dapat mengubah tingkat kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) menjadi langkah awal bagi penulis untuk mewujudkan Darling Mart. Kami, mahasiswa semester 2 dan semester 4 di Fakultas Ekonomi Universitas Borneo Tarakan, memperoleh pembelajaran yang berharga melalui program ini, yang juga mendorong kami untuk terus berkarya dan berinovasi. Dengan merancang Darling Mart, kami berharap usaha ini dapat memberikan manfaat dan peluang yang menjanjikan, khususnya bagi Kota Tarakan, yang dikenal dengan banyaknya coffee shop dan masyarakat yang menggantungkan mata pencahariannya sebagai pembudidaya rumput laut.
Deskripsi Usaha : Darling Mart adalah usaha kreatif mahasiswa Universitas Borneo Tarakan yang berfokus pada pengolahan limbah menjadi produk bernilai jual. Berawal dari keprihatinan terhadap tingginya volume sampah plastik, jaring rumput laut bekas, dan limbah kertas di Kota Tarakan, tim ini menghadirkan solusi inovatif berbasis daur ulang. Tujuan utamanya adalah mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar. Produk-produk yang dihasilkan memiliki keunikan tersendiri karena menggabungkan unsur keberlanjutan, fungsionalitas, dan budaya lokal Kalimantan Utara. Contohnya, Kapsul Pelampung Rumput Laut (Kapsurula) yang menggantikan botol plastik untuk petani rumput laut, Bean Bag ramah lingkungan dari limbah jaring rumput laut, Meja Portabel dari limbah kertas dengan motif khas Kalimantan Utara, serta Asbak Rokok dari tutup botol plastik dengan sentuhan motif budaya. Produk-produk ini tidak hanya membantu menyelesaikan masalah limbah tetapi juga memperkenalkan nilai budaya lokal kepada konsumen. Secara operasional, Darling Mart dikelola oleh lima mahasiswa dengan pembagian tugas yang jelas sesuai keahlian masing-masing, mulai dari produksi, pemasaran, pengadaan bahan baku, hingga pengelolaan keuangan dan administrasi. Usaha ini memanfaatkan pendekatan storytelling marketing 5W+1H untuk memperluas jangkauan pasar dan membangun brand awareness. Dengan dukungan program P2MW, kapasitas produksi dan kualitas pencatatan keuangan meningkat signifikan, membuat usaha lebih profesional dan siap menjangkau pasar lokal maupun nasional.
Penutup : Melalui program P2MW, Darling Mart berhasil berkembang dari usaha mahasiswa berbasis ide sederhana menjadi usaha kreatif yang lebih profesional. Dukungan pendanaan dan pembinaan tidak hanya memperluas kapasitas produksi dan pasar, tetapi juga meningkatkan kemampuan tim dalam manajemen keuangan, promosi, serta inovasi produk. Produk unggulan seperti Kapsurula, Bean Bag, Meja Portabel, dan Asbak Motif kini semakin dikenal dan mulai memberikan dampak positif bagi lingkungan maupun ekonomi masyarakat di Kota Tarakan. Kami menyadari bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari kerja sama tim yang solid, pengelolaan arus kas yang lebih rapi, dan penerapan strategi pemasaran yang tepat. Pendanaan P2MW telah menjadi katalis penting dalam mempercepat pertumbuhan usaha sehingga tim lebih percaya diri untuk menargetkan pasar yang lebih luas. Harapan kami, usaha ini dapat terus berkontribusi pada pengurangan limbah, memperkenalkan budaya lokal Kalimantan Utara melalui produk inovatif, dan menginspirasi mahasiswa lain untuk berwirausaha secara berkelanjutan. Kami berkomitmen untuk terus menjaga kualitas, memperluas jangkauan pasar, dan mengembangkan produk baru agar Darling Mart semakin relevan di pasar modern sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan.
