Nama Bisnis : B Magg Pakan Ikan Lele Ramah Lingkungan Dengan Sumber Protein Hewani Maggot
Kategori Usaha : Budidaya
Tahapan Usaha : Tahapan Awal
Merek/ Nama Produk : B-Magg
Nama Komunitas : International Creativity and Innovation Awards (ICIA)
NIB : 0206250084645
Tahun NIB : 2025
Nama Institusi : Universitas Pakuan
Platform Penjualan : Shopee [https://id.shp.ee/QutyKE8]
Akun Media Sosial : Instagram dan Tiktok: @bmaggofficial | Facebook: @B-Magg | Email: bmaggofficial@gmail.com
Situs Bisnis : https://www.instagram.com/bmaggofficial?igsh=Z2txZ3J3cThycDNw | https://www.facebook.com/share/1CnA7duzNK/?mibextid=wwXIfr | https://www.tiktok.com/@bmaggofficial?_t=ZS-8zIkCN2t8UL&_r=1
Lokasi Bisnis : Jalan Tawakal Kavling 11A. RT. 003 RW. 006, Kelurahan Bubulak, Kecamatan Bogor Barat, 16115.
Link GMaps : https://www.google.com/maps/place/Kp.Tawakal+I+No.11A,+RT.01%2FRW.05,+Bubulak,+Kec.+Bogor+Bar.,+Kota+Bogor,+Jawa+Barat+16115/@-6.5610202,106.7550825,3a,75y,5.72h,90.77t/data=!3m7!1e1!3m5!1szWeTbHWToEkH1i8_5OWRxg!2e0!6shttps:%2F%2Fstreetviewpixels-pa.googl
Latar Belakang : Permasalahan sampah di Indonesia telah menjadi isu nasional yang mendesak. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto sendiri sempat menginstruksikan secara khusus ke sejumlah Menteri di Kabinet Merah Putih, yakni Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan dan Menteri Pekerjaan Umum (PU) untuk mencari solusi yang optimal mengenai pengelolaan sampah (Metrotv.com, 2025) [https://www.metrotvnews.com/play/kj2CEeBJ-presiden-prabowo-bahas-pengelolaan-sampah-bersama-sejumlah-menteri]. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup pada tahun 2024 jumlah sampah yang dihasilkan di Indonesia 33,772,048.92 ton per tahun. Kondisi ini diperparah dengan jumlah populasi penduduk yang selalu meningkat setiap tahunnya serta belum maksimalnya pengelolaan sampah yang hanya 58,6% per tahun (SIPSN, 2025) [https://sipsn.menlhk.go.id/sipsn/#parallax]. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya penumpukan sampah-sampah di tempat pembuangan sampah. Tumpukan sampah yang tidak terkelola ini dapat menjadi sumber penyakit yang dapat membahayakan warga sekitar (Gandhy et al., 2024). Dari total sampah yang dihasilkan di Indonesia, sebanyak 63,37% adalah sampah organik (SIPSN, 2024), sampah organik sendiri cenderung dianggap tidak memiliki nilai ekonomis jika dibandingkan dengan sampah anorganik yang dapat didaur ulang. Kota bogor sebagai salah satu penyumbang sampah terbesar di Jawa Barat menghasilkan menghasilkan sampah sebesar 284.631,60 ton setiap tahunnya dan sebesar 779.81 ton sampah per hari, dengan sisa makanan sebagai penyumbang sampah terbanyak yakni sebesar 40% yang sebagian besar berasal dari hotel, restoran, kantin, dan pedagang buah di pasar (SIPSN, 2025) [https://sipsn.menlhk.go.id/sipsn/#parallax]. Kondisi inilah yang mengakibatkan terjadinya penumpukan sampah terus bertambah, dan hanya masalah waktu untuk Tempat Pembuangan Akhir Sementara Galuga (TPAS Galuga) tidak sanggup lagi menampung sampah. Selama ini upaya yang dilakukan pemerintah dalam upaya pengelolaan sampah adalah dengan menciptakan fasilitas pengolahan sampah dengan menggunakan Bank Sampah baik Bank Sampah Induk (BSI) dan Bank Sampah Unit (BSU), komposting, Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TP3SR), dikonversi menjadi sumber energi (Biodigester), dan lain lain. Sehingga total sampah yang berhasil diolah sebesar 58,6% setiap tahunnya (SIPSN, 2025) [https://sipsn.menlhk.go.id/sipsn/#parallax]. Dengan demikian, masih ada total 41,6% sampah yang belum diolah dan akan terus bertambah setiap tahunnya. Dengan realita ini menunjukan bahwa pengelolaan sampah tidak bisa hanya bergantung pada Pemerintah, melainkan perlu melibatkan berbagai pihak melalui pendekatan yang kolaboratif melalui Pentahelix. Salah satu pendekatan inovatif yang dapat menjadi solusi adalah dengan Biokonversi sampah organik dengan Maggot BSF (Prihartini et al., 2022). Maggot merupakan sebuah organisme yang akan berubah menjadi lalat dengan jenis Black Soldier Fly (BSF) atau dikenal pula dengan sebutan lalat tentara hitam. Lalat ini memiliki siklus hidup yang singkat, pertumbuhan yang cepat dan mampu menguraikan 80% sampah organik, baik sayur, buah, sampai dengan sisa makanan. Maggot memiliki kandungan protein kasar sebesar 36.6%, asam laurat 49.18% dengan kandungan protein yang tinggi membuat maggot dapat dijadikan pakan alternatif untuk perikanan (Hardini & Gandhy, 2021). Dalam melakukan budidaya terutama ikan lele pakan menjadi faktor kunci dalam kesuksesan budidaya, sebab pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam budidaya dan perikanan yakni sebesar 60-70% dari keseluruhan biaya produksi. Dalam budidaya ikan lele, pertumbuhan ikan sangat dipengaruhi oleh pakan yang dikonsumsi oleh ikan lele (Hardini & Gandhy, 2021). Pakan yang memiliki kandungan protein tinggi cenderung akan mempercepat pertumbuhan ikan lele (Prihartini et al., 2022). Untuk dapat menekan biaya produksi, diperlukan adanya alternatif pakan dengan kandungan protein yang tinggi dengan harga yang murah, salah satu pakan alternatif yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan maggot, mengingat maggot dapat mereduksi sampah organik dengan biokonversi dan memiliki kandungan protein yang tinggi. Hal ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh (Hardini & Gandhy, 2021) diketahui bahwasanya secara finansial budidaya ikan lele dengan menggunakan pakan tambahan maggot jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan menggunakan 100% pelet. Dengan demikian maggot memiliki potensi untuk dapat dikelola dan mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi serta bermanfaat untuk mengurangi sampah yang setiap tahunnya bertambah dan mencemari lingkungan (Gandhy et al., 2024). Berdasarkan permasalahan tersebut terciptalah sebuah peluang untuk menciptakan pelet ikan lele yang ramah lingkungan dengan sumber protein hewani dari maggot BSF. Pelet B-Magg ini merupakan bentuk kolaborasi dengan dosen pembimbing, sebab produk ini adalah inovasi yang tercipta dari pengembangan hasil riset dosen pembimbing yang sebelumnya dilakukan diskusi di ruang kelas dan kemudian diusulkan lah proposal ini dalam kategori Budidaya dan tahapan usahanya adalah tahapan awal sebab usaha ini baru selesai melalui tahap pembuatan prototipe dan sudah dilakukan pengujian pada ikan lele yang terbukti dapat memberikan hasil yang maksimal sesuai dengan kebutuhan ikan lele namun belum dilakukan penjualan produk. Untuk mengajukan proposal ini dibentuklah tim dengan posisi Dr. Abel Gandhy, S.Pi., MM. sebagai Dosen Pendamping, Adi Surya Panji Gumilang sebagai CEO, Indi Naswa sebagai CMO, Ranti Audina Yuristianti sebagai CFAO, dan Novena Putrianti sebagai COO. Pemilihan posisi tim ini adalah hasil pertimbangan matang minat dan bakat yang dimiliki, kedepannya tim akan diberikan pelatihan pelatihan sesuai dengan kompetensinya. Hasil analisis pasar juga diketahui usaha ini memiliki peluang yang besar, sebab kebutuhan pakan ikan lele setiap tahunnya mencapai 1.250.359 Ton dengan pertumbuhan yang besar. Dengan demikian B-Magg sebagai pakan ikan lele dengan kandungan protein hewani dari maggot merupakan produk yang sangat menarik, mengingat produk ini juga dapat berkontribusi terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) yakni SDGs 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi; SDGs 11 Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan; SDGs 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab; SDGs 14 Kehidupan di Bawah Air; dan SDGs 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Deskripsi Usaha : B-Magg merupakan Green Business yang bergerak di bidang perikanan dengan produk pakan ikan lele yang tinggi protein serta ramah lingkungan berbasis maggot Black Soldier Fly (BSF) dengan konsep Socialpreneur. B-Magg pula turut berkontribusi dalam masalah lingkungan dengan mengubah sampah sisa makanan menjadi produk bernilai ekonomi seperti pelet ikan lele dan pupuk kasgot Melalui biokonversi Maggot BSF,. Usaha ini turur mengimplementasikan konsep ekonomi sirkular melalui kolaborasi Pentahelix yang melibatkan 5 unsur, seperti - Akademisi: Universitas Pakuan - Bisnis: Resto DPD dan Bumi Farm - Pemerintah: DLH Kota Bogor - Komunitas: KWT Cempaka dan PIK-R Aregam, - Media: Radar Bogor dan Kompasiana. B-Magg menargetkan pembudidaya ikan lele di kawasan Minapolitan Ciseeng yang membutuhkan solusi pakan ikan yang efisien dan ramah lingkungan, sehingga B-Magg turut berkontribusi terhadap SDGs 8, 11, 12, 14, dan 17 dengan dampak yang diharapkan berupa pengurangan hingga 50% sampah sisa makanan yang dibuang ke TPA serta peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui ekonomi hijau yang nantinya dapat direplikasi di berbagai daerah.
Penutup : Dengan hadirnya B-Magg, diharapkan dapat menjadi solusi dalam mengatasi masalah penumpukan sampah sisa makanan dengan mereduksi 50% timbulan sampah dengan merubahnya menjadi produk bernilai ekonomis yang dapat direplikasi. Selain itu B-Magg juga diharapkan dapat mengatasi masalah harga pakan yang tinggi juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pengelolaan sampah melalui Biokonversi Maggot BSF. Dengan demikian B-Magg memiliki strategi berbasis edukatif melalui konsep sociopreneur, yang menjadikannya sebagai usaha hijau dengan fokus pada keberlanjutan dan turut berkontribusi terhadap SDGs terutama SDGs 8, 11, 12, 14 dan 17.
